Setelah saya buka kaca dan menjelaskan kondisinya, kami memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan dengan menggunakan mobil. Namun ketika baru saja maju beberapa menit, ada 2 tukang ojek yang mengejar dan menggedor kaca mobil. Mobil kami dilarang untuk melanjutkan perjalanan ke Tebing Keraton.

Saya sudah berusaha menjelaskan kembali bahwa ibu-ibu dengan pakaian kebaya lengkap ini tidak mungkin untuk naik motor. Tapi salah satu tukang ojek tersebut dengan kasar bersikeras menyuruh kami untuk memutar balik mobil ke pangkalan ojek di Warung Bandrek.

Saya tahu ini adalah masalah uang karena jasa ojek dari Warung Bandrek ke Tebing Keraton yang berjarak 1,8 kilometer itu adalah Rp 50.000 pulang pergi per-orang dan pengguna mobil pribadi dianggap mengurangi penghasilan.

Kami yang berjumlah 9 orang diminta membayar uang pengganti ongkos ojek yang jasanya tidak kami pakai. Kami adalah orang-orang yang taat pajak, memiliki NPWP dan membayar pajak kendaraan, tapi tidak bisa menggunakan jalan yang dibangun dengan uang pajak?

Baca juga : Tebing Keraton

Karena kesal kami memutuskan untuk membatalkan perjalanan dan pulang ke hotel. Dan yang paling membuat saya malu adalah ketika salah satu tamu berkomentar, orang-orang Bandung sudah tidak seramah dulu lagi ya?

Sungguh disayangkan, Kota Bandung yang terkenal dengan keramah-tamahan penduduk dan keindahan alamnya ini mulai tergerus oleh kepentingan ekonomi.

" /> Youngontop - Tolong Tertibkan Ojek di Tebing Keraton!

Detail Notes

Tolong Tertibkan Ojek di Tebing Keraton!


Tebing Keraton adalah sebuah tempat wisata alam di kawasan Bandung Utara yang mulai dikenal dengan keindahan alamnya sejak tahun 2014. Pada suatu hari saya berkesempatan untuk mengantar tamu dari luar kota yang ingin mengunjungi tempat tersebut.

Ketika baru saja sampai di Warung Bandrek, mobil yang kami tumpangi diberhentikan oleh sekelompok tukang ojek yang menyuruh parkir dan meneruskan perjalanan dengan menggunakan jasa mereka.

Kebetulan kami baru pulang dari sebuah resepsi pernikahan dan sebagian tamu yang saya antar adalah ibu-ibu yang berpakaian kebaya sehingga tidak memungkinkan untuk menaiki sepeda motor.
 

Setelah saya buka kaca dan menjelaskan kondisinya, kami memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan dengan menggunakan mobil. Namun ketika baru saja maju beberapa menit, ada 2 tukang ojek yang mengejar dan menggedor kaca mobil. Mobil kami dilarang untuk melanjutkan perjalanan ke Tebing Keraton.

Saya sudah berusaha menjelaskan kembali bahwa ibu-ibu dengan pakaian kebaya lengkap ini tidak mungkin untuk naik motor. Tapi salah satu tukang ojek tersebut dengan kasar bersikeras menyuruh kami untuk memutar balik mobil ke pangkalan ojek di Warung Bandrek.

Saya tahu ini adalah masalah uang karena jasa ojek dari Warung Bandrek ke Tebing Keraton yang berjarak 1,8 kilometer itu adalah Rp 50.000 pulang pergi per-orang dan pengguna mobil pribadi dianggap mengurangi penghasilan.

Kami yang berjumlah 9 orang diminta membayar uang pengganti ongkos ojek yang jasanya tidak kami pakai. Kami adalah orang-orang yang taat pajak, memiliki NPWP dan membayar pajak kendaraan, tapi tidak bisa menggunakan jalan yang dibangun dengan uang pajak?

Baca juga : Tebing Keraton

Karena kesal kami memutuskan untuk membatalkan perjalanan dan pulang ke hotel. Dan yang paling membuat saya malu adalah ketika salah satu tamu berkomentar, orang-orang Bandung sudah tidak seramah dulu lagi ya?

Sungguh disayangkan, Kota Bandung yang terkenal dengan keramah-tamahan penduduk dan keindahan alamnya ini mulai tergerus oleh kepentingan ekonomi.

By Mile,
Posted 10-03-2018 read:125

Related Notes

Pengamatan gerhana bulan total di Lembaga Observatorium Bosscha, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, hingga pukul 19.20…
By Mile
Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran (LPMQ) mewakili Kementerian Agama turut memeriahkan Museum Sri Baduga Expo 2017…
By Mile
  #TGFTD - 210113 – Monday Test  “pencobaan hadir dalam hidup untuk memastikan bahwa kita…
By Febriyan Lukito
Young On Top New Edition adalah sebuah buku mengenai cara-cara mencapai puncak karier di usia…
By Dian Marthatiar
Setiap orang harus merasakan jatuh-bangunnya masing-masing. Kita gak bisa melindungi seseorang biar gak terpuruk atau…
By Farisa Angelica