Wajah-wajah asing berlalu lalang didepanku, ada yang cerah, ada yang masam, ada yang bingung, ada pula yang datar. Disini dibangun ilmu tahap demi tahap oleh orang-orang yang peduli dengan bangsanya, dengan berdindingkan kaca sinar 15juta derajat gagal menembus tabir rekaan manusia.

Ya.. tak dipungkiri suhu diluar sana dapat mendidihkan pikiran, membuat gila siapa saja yang berjalan dibawahnya. Tapi itu semua berarti, demi mencari halaman demi halaman yang hilang tiap waktu. Buku-buku diatas sana menanti para pecinta ilmu untuk menjamahnya, seakan-akan berteriak mencari tuannya yang lama pergi.

Beralaskan kayu, bersandarkan kulit hitam, menatap elektron yang hilir mudik didepan monitor laptop ini. Si segar juga ikut menemani tiap kata yang kuketik, berjasa melepas dahaga saat pikiran terkapar.

Yap inilah suasana yang kurindukan. Kurasa jika Gie remaja masih menjelajah, ia akan menggemari aroma ini, menyentuh halus rumah ilmu yang lama terlupakan bahkan beralih fungsi. Menatap miris yang dahulu gudang ilmu, menjadi tempat  leha-leha kaum  hedonis.

Kurasa hawa panas pun akan hilang bagi siapapun yang merindu, lebih lagi jika angin merdu membantu si raga menahan terik. Kuhabiskan seteguk lagi demi lepasnya kata siang ini, berharap kan berjumpa lagi esok, lusa, maupun tahun depan.

Menanti datangnya kepastian, kapankah berjumpa? Memang kesendirian menyuburkan inspirasi. Saat ramai hanya bisa menghasilkan diskusi, namun sendiri bisa melahirkan kontemplasi.

best regards,

 

sumber: Nulis 15 menit

" /> Youngontop - Sinar 15 Juta Derajat

Detail Notes

Sinar 15 Juta Derajat


Wajah-wajah asing berlalu lalang didepanku, ada yang cerah, ada yang masam, ada yang bingung, ada pula yang datar. Disini dibangun ilmu tahap demi tahap oleh orang-orang yang peduli dengan bangsanya, dengan berdindingkan kaca sinar 15juta derajat gagal menembus tabir rekaan manusia.

Ya.. tak dipungkiri suhu diluar sana dapat mendidihkan pikiran, membuat gila siapa saja yang berjalan dibawahnya. Tapi itu semua berarti, demi mencari halaman demi halaman yang hilang tiap waktu. Buku-buku diatas sana menanti para pecinta ilmu untuk menjamahnya, seakan-akan berteriak mencari tuannya yang lama pergi.

Beralaskan kayu, bersandarkan kulit hitam, menatap elektron yang hilir mudik didepan monitor laptop ini. Si segar juga ikut menemani tiap kata yang kuketik, berjasa melepas dahaga saat pikiran terkapar.

Yap inilah suasana yang kurindukan. Kurasa jika Gie remaja masih menjelajah, ia akan menggemari aroma ini, menyentuh halus rumah ilmu yang lama terlupakan bahkan beralih fungsi. Menatap miris yang dahulu gudang ilmu, menjadi tempat  leha-leha kaum  hedonis.

Kurasa hawa panas pun akan hilang bagi siapapun yang merindu, lebih lagi jika angin merdu membantu si raga menahan terik. Kuhabiskan seteguk lagi demi lepasnya kata siang ini, berharap kan berjumpa lagi esok, lusa, maupun tahun depan.

Menanti datangnya kepastian, kapankah berjumpa? Memang kesendirian menyuburkan inspirasi. Saat ramai hanya bisa menghasilkan diskusi, namun sendiri bisa melahirkan kontemplasi.

best regards,

 

sumber: Nulis 15 menit

By Riant Raafi,
Posted 27-07-2012 read:490

Related Notes

Mengetahui batas kemampuan diri sudah merupakan hal yang wajib bagi manusia dalam rangka mengenali diri…
By Riant Raafi
Menjadi seorang manusia adalah anugerah terindah pernah yang diberikan-Nya dalam setiap kehidupan manusia. Bayangkan jika…
By Riant Raafi
Pernahkah kalian memikirkan judul diatas? Hal itu benar kan YOTers? Kenapa berubah? Karena hidup itu…
By Natasha Ghita D
Apa yang harus dilakukan setelah magang? Yoters masa magang aku akan segera berakhir dalam minggu…
By Annisa Fauzia
“If you’re good only to the people who are good to you, what good are…
By Ibnu Putra