Detail Notes

"Peoples won't care, but You have to still Care"


Halo YOTers! bagaimana hari ini? sungguh hari ini sama seperti hari-hari biasanya, sama-sama sibuk. saya dikejar banyak tugas dan dateline pekerjaan yang harus segera saya selesaikan dan di hari yang sama. saya memang mengikuti banyak organisasi baik di dalam maupun di luar kampus, belum lagi tugas sebagai kormat (koordinator mata kuliah) di semester ini. 

Woops, apakah anda berpikir saya mengeluh? tidak, sungguh saya mencintai pekerjaan saya sekarang ini, saya menikmati segala kesibukkan saya sekarang. Ini yang saya inginkan,  bertransformasi dari saya yang hanya mahasiswa 'pendiam' dan pasif mencoba menjadi orang yang dapat sedikit menginspirasi orang lain untuk benar-benar menjadi dirinya sendiri, menjadi dirinya yang ia inginkan. Jadi tidak ada alasan untuk berkeluh kesah karenanya.

Tapi ternyata tidak semudah itu, kawan. Hal ini tidaklah semudah yang dibayangkan orang dalam kalimat 'choose a job you love, and you will never have to work a day in your life". Saya tidaklah dijatuhkan dalam pekerjaan, melainkan dijatuhkan oleh orang-orang dalam pekerjaan.

Bermula dari sosok yang pasif, orang-orang menjadi terheran-heran melihat saya yang tiba-tiba begitu aktif. Mereka sangat mendukung perubahan saya, bahkan yangmembuat saya terharu adalah beberapa dari mereka menyatakan kegembiraannya atas transformasi saya.

Woops, namun itu baru di awal. di seperlima perjalanan, sungguh saya yang masih bermental empuk dan sangat peka terhadap pendapat orang lain, sangat digembleng di sini. Pukulan pertama berawal dari hal yang cukup sederhana, yaitu miskomunikasi antara saya,teman saya, dan dosen sebuah mata kuliah yang membuat saya harus mengganti jadwal makul tersebut, dan saya sukses dicacimaki belasan  teman-teman kelas saya. Bahkan teman-teman kos saya marah-marah dan menangis di depan pintu kamar saya sambil mencaci saya. Sungguh saya tidak dapat menahan rasa sedih dan  bersalah saya, namun saya tidak dapat mengatakan hal lain selain menangis sendirian di dalam kamar. Sesampainya di kelas, saya yang sedang berusaha sekuat tenaga menahan tangis, justru mendapati  pesan teman baik saya yang menjatuhkan saya, sungguh hari itu cacian-cacian terngiang-ngiang di kuping saya.

ketika orang-orang mencaci kita, pernahkah mereka memikirkan apa yang sedang kita alami? apa yang sedang kita kerjakan? apakah mereka pernah berpikir bahwa kita hanya tidur 2-3 jam berhari-hari hanya untuk membuat suatu program yang membantu mereka dalam belajar? apakah mereka tidak berpikir bahwa kita benar-benar bekerja untuk mereka juga? apakah hanya mereka saja merasa dirugikan sedangkan kita tidak? Jawabannya mungkin bisa 'pernah','selalu', atau bahkan 'tidak'. satu yang pasti saya yakini adalah, tidak ada perlu kita jelaskan hal itu semua kepada mereka

Layaknya peribahasa 'semakin tinggi pohon, semakin kuat angin yang menerpanya' (ya kalau salah, mungkin hanya sedikit :D), saya harus menyadari bahwa berpijak lebih tinggi membuat saya juga harus menyiapkan diri  untuk hal semacam ini. Saya tahu mereka tidak akan tertarik atau memberikan iba pada kita yang hanya membuat alasan-alasan di saat ada masalah seperti itu, dan saya pun tidak tertarik untuk meminta iba dengan menceritakan pengorbanan dan perjuangan saya. maka ketika saya dicaci, saya hanya meminta maaf, atau diam dan berpikir 'sungguhlah jika orang mau lebih bersabar, mungkin lebih banyak hal yang dapat kita senyumkan bersama'.

Dan di saat ini pula, berbagai pekerjaan bersahut-sahutan memanggil-manggil kita untuk dikerjakan. Dan di saat ini pula, teman-teman bersahut-sahutan menanyakan berbagai tugas yang ada, dan lagi-lagi ada saja yang 'bertanya' dengan nada yang tidak menyenangkan hati. Tapi begitulah hidup.

Saya selalu teringat tulisan di background desktop saya, sebuah kalimat dari Aristotle: "There's only One Way to Avoid Criticsm: do nothing, say nothing, and be nothing". itu lah saya yang dulu, saya yang begitu aman dari kritik-kritik pedas, karena saya melakukan 3 hal itu. Saya melakukan hal yang 'aman' (kuliah,diam,pulang). Saya mengatakan hal yang 'aman' (mengiyakan pendapat mayoritas, dan hanya diam jika tidak setuju). saya tidak memiliki ambisi besar untuk diri saya sendiri yang lebih baik. Saya tentram di saat itu, tapi kemudian sekarang saya sadari, mungkin saja bukan tentram yang saya dapati melainkan orang lain tidak mendapati saya (?) :D

fiuh.. Dari semua ini, sebenarnya saya hanya ingin mengingatkan diri saya sendiri bahwa ketika  lelah datang bersamaan dengan pekerjaan dan kritikan orang-orang, kuat lah, karena sungguh  semua alasan yang kita lontarkan tidak akan membuat orang berhenti mengkritik kita. Justru terkadang mereka selalu merongrong kita karena mereka bergantung pada kita. kenapa? karena sebenarnya mereka telah mempercayai kita untuk menjadi wakil mereka. Mereka telah mempercayai kita dalam mengurus urusan mereka. Terkadang mungkin melelahkan, dan ingin rasanya melepas tanggungjawab itu, namun lagi-lagi berkata pada diri sendiri :"Leader, peoples won't care all of your problems, but YOU have to still care of theirs"

 

ATLAS

13.5.13.19.16.611 

By Anggi Novitasari,
Posted 13-05-2013 read:492

Related Notes

Setelah dua puluh tahun lebih, saya baru saja mempunyai ‘mimpi’ atau yang lazim disebut orang…
By Anggi Novitasari
Baru 2 hari lalu saya pulang dari sebuah training kepemimpinan di kampus selama 3 hari.…
By Anggi Novitasari
halo teman2 apa kabar nih?smoga kabarnya Luar biasa semua yah jgn lupa utk terus bersyukur…
By Razka_Astrid
Assalamu ‘Alaykum, Hai YOTers, pernah punya masalah dengan kebiasaan buruk? Bagaimana dengan kebiasaan baik? Punya…
By Ana Ainul
    “Untuk yang sedang kehilangan dirinya sendiri, untuk yang sedang berusaha menjemput takdir ‘cermin’nya,…
By Urfa Qurrota 'Ainy