Detail Notes

Pembelajaran dari Nenek Mariam


Usianya sudah melebihi 70 tahun, perawakanya kurus kecil dengan kulit sawo matang yang sudah mengkeriput. Kepalanya selalu bermahkotakan kerudung tanda kecinntaannya  pada sang Khalik. Baju kebaya lusuh beliau pasangkan dengan selembar kain jawa menjadi seragamnya sehari-hari. Ialah sang wonder grandma, Mariam.

Meskipun sudah memasuki usia uzur, tubuh sang Nenek tetap tegak dan sehat layaknya waktu muda dulu. Dugaanku, rahasianya adalah aktivitas sang Nenek yang membuat tubuhnya tetap bugar. Pagi hari Nenek akan pergi ke sawah miliknya yang jaraknya lumayan jauh dari rumah dengan berjalan kaki. Siang hari di sela-sela aktivitas masak, ia akan menyerut bambu untuk membuat boboko (anyaman bambu berbentuk bakul nasi).

Pertemuan  dengan sang Nenek terjadi karena program KKN yang mengharuskan diri ini menetap selama sebulan penuh di ujung Tangerang,  dan rumah sang Nenek menjadi tempat melepas penat selama sebulan KKN di sini. Pembelajaran dari sang Nenek didapatkan kala berbincangn ringan dengannya di bale bambu samping dapur tempat ia biasa membuat bobooko. Sudah 2 minggu berlalu sejak diri ini menumpang di rumah Nenek, namun baru kali ini berbincang lama dengan beliau.

Sambil menganyam ia memuaskan rasa penasaranku dengan menjawab semua pertanyaan  yang coba  mencari tahu lebih banyak tentang kehidupannya. Dari perbincangan ini aku tahu bahwa Nenek Mariam adalah generasi terakhir dari kaluarganya yang masih membuat boboko.  Anak cucunya menolak untuk melanjutkan keterampilan yang sudah diwariskan turun temurun ini dengan dalih sulit dan ribet untuk membuat boboko.

Nenek Mariam menginspirasiku dengan kesehariannya, bahwa ia tetap mencoba mandiri dalam setiap jengkal kehidupannya, termaksut dari sisi materi.  Bayangkan saja, sawah yang menjadi sumber penghasilannya terancam gagal panen karena kemarau yang berkepanjangan dan boboko yang ia anyam hanya bisa dijual ke pengepul paling cepat 1 bulan sekali, itupun tidak seberapa bayarannya. Namun ia tetap menolak menerima bantuan dari siapapun. Ia tidak mau menggantungkan hidupnya pada orang lain termaksut anaknya sendiri.

Melihat kemandirian sang Nenek aku teringat akan (maaf) para pengemis yang berada dijalanan. Kemandirian sang super grandma bagaikan “langit” dan sifat pemalas dari pengemis adalah “buminya”. Seandainya mereka tahu bahwa Allah SWT sangat membenci hamba-Nya yang merendahkan diri sendiri dengan meminta. Seharusnya dengan umur yang masih muda ditambah tubuh yang masih tegap dan kekar mereka seharusnya berusaha lebih keras lagi, bukan justru menjadi pengemis dan menadahkan tangan ke atas dengan berkata “minta…” kepada setiap siapa saja yang lewat.  Because success doesn’t come with  begging, need action to bring it to you

Tulisan ini saya dedikasikan untuk diri sendiri agar tidak lagi berpangku tangan kepada orang tua, meskipun akan sulit dan butuh waktu lama untuk mewujudkannya, setidaknya diri ini punya niat yang besar untuk meringankan pundak Ayahanda dan ibunda dalam kesehariannya. Aaamiiinn.

By Fadjrin Agam Maulana,
Posted 20-08-2015 read:144

Related Notes

Hai, buat kalian yang lagi sedang seru-serunya mempersiapkan masa depan pernah ngerasain dilemma kaya gini…
By Fadjrin Agam Maulana
Hai, beberapa waktu lalu gua menghadiri sebuah seminar dengan garis besar pembahasan mengenai startup di…
By Fadjrin Agam Maulana
Sering sekali dalam keseharian  kita bingung, manakah yang lebih penting? Kemauan atau kemampuan. Beberapa orang…
By YOTCA
Pernahkan dalam dua hari mendapatkan pengalaman yang berbagai macam namun harus dilalui bekerjasama dengan orang…
By Young On Top Depok
Hai YOTers, apa kabar? Pernahkah YOTers merasa ragu akan kemampuan yang YOTers miliki hingga kemudian…
By Devina Wulandari