Detail Notes

Mental Individu: Akar Permasalahannya


Hari senin di minggu ketiga bulan january, waktu masih menunjukkan pukul 06.00 pagi dimana sinar sang surya banyak dicari karena masih begitu hangat dan bersahabat. Seakan menjadi pengobat akan udara sejuk nan dingin khas pagi hari. Secangkir teh aroma melati beserta potongan biskuit seolah menjadi terapi pagi yang menentramkan gemuruh di dalam perut. Hingga akhirnya terdengar suara..

“Bang ayo bang, udah jam setengah tujuh nih nanti dede telat”

Yups, rutinitas pagi hari gua adalah menjadi driver seorang anak kecil kelas 6 SD bernama Alin. Tubuhnya sih kecil, tapi kalimatnya begitu ampuh untuk membuat gua bangkit dari kursi yang membuat gua nyaman. Mungkin karena ada sosok nyokap yang selalu berdiri dibelakangnya, yang sudah siap dengan kalimat-kalimat perintah tanpa celah hingga gua ga bisa berkutik.

Lokasi sekolahnya sih ga begitu jauh dari rumah, tapi rute yang harus dilaluinya itu yang bikin males. Harus melewati perempatan yang tidak kenal sepi dengan kendaraan bermotor. Ditambah lagi kondisinya sekarang adalah hari senin, awal dari aktivitas semua orang untuk satu minggu kedepan, yang biasanya dan pastinya macet akan dengan sangat mudah ditemui.

Yes bener aja, antrian panjang kendaraan bermotor sudah terlihat di jalan menuju sekolah Alin. Hingga akhirnya diputuskan untuk memarkirkan kuda besi gua di depan toko yang belum buka.

“De kita jalan aja biar cepet, macetnya udah parah” jelas gua

Gua gandeng tangannya seraya menuntunnya melintasi kerumunan kendaraan bermotor yang menderu-deru. Mendekati sekolahnya, ada satu unit motor matic berpenumpang seorang ayah dengan anak lelakinya yang masih kecil yang datang dari lawan arah. Sang ayah bilang gini ke anaknya pas kita berpapasan..

“pada ga tertib nih De, makanya jadi macet”

Seketika seperti ada rasa “klik” antara gua dengan sang ayah tadi, karena sebelumnya gua pernah melamun ditengah kemacetan, mempertanyakan kira-kira apa penyebab macetnya ya? Dan jawaban dari lamunan gua ya seperti yang dibilang sang ayah tadi, karena kita tidak tertib. Tidak mau sabar mengantri dan bergantian dengan yang lain.

Cobalah untuk tertib, menghentikan laju kendaraan di belakang garis putih dan tidak mengambil hak pejalan kaki untuk menyebrang di zebra cross. Antrilah dengan sabar, menanti sesuai urutan hingga kesempatan kita untuk kembali memacu kendaraan datang. Tidak perlu menyodok kendaraan di depan kita dan berhenti tepat di atau depan zebra cross agar bisa lebih cepat.

Kalo menurut gua justru ini penyumbang kemacetan terbesar, disadari atau engga dengan berhenti di depan zebra cross akan membuat space kendaraan yang lain arah jadi mengecil, yang akan memperlambat laju mereka dan justru berakibat pada kemacetan.

Ahh.. Seandainya budaya antri benar-benar membumi dan dipraktekkan semua orang, mungkin sudah tidak akan lagi kita temui kemacetan. Gua setuju banget dengan iklannya pemerintah yang bertajuk “gerakan perubahan, revolusi mental” karena memang semua akar permasalahannya balik lagi ke mental individu masing-masing. Stop complain! Sadari, mulai dari diri sendiri dan start now untuk tertib agar tidak macet.

Buat temen-temen yang udah baca, yuk kita praktekan tertib dan antri. Jika dirasa sulit, tolong share tulisan ini ke yang lain agar mereka yang mempraktekan dan jadi bagian dari gerakan perubahan.

By Fadjrin Agam Maulana,
Posted 22-01-2016 read:102

Related Notes

Hai, buat kalian yang lagi sedang seru-serunya mempersiapkan masa depan pernah ngerasain dilemma kaya gini…
By Fadjrin Agam Maulana
Hai, beberapa waktu lalu gua menghadiri sebuah seminar dengan garis besar pembahasan mengenai startup di…
By Fadjrin Agam Maulana
  Happiness is not tomorrow, it is now. Happiness is not a dependency, it is…
By Putri Larasati
Hai YOTers, Pastinya kebanyakan dari YOTers sekarang ini merupakan anak muda yang memiliki sangat banyak…
By saras ayu virananda
  Siang YOTers.. ini adalah postingan pertama saya, pada postingan ini saya membahas bagaimana jatuh…
By erry