Lewat mimpi, segala hal terasa begitu mudah, begitu menyenangkan, begitu menenangkan. Lewat mimpi, kita bahagia untuk lelah, tertawa saat terjatuh, dan tersenyum ketika kehilangan. Mimpi adalah anugrah dari Tuhan yang diberikan kepada setiap manusia, tugas mereka hanya menemukan dan menjalaninya saja, ya.. bermimpi.
 
            Di sore yang cukup syahdu, saya berbincang dengan seorang teman tentang mimpi, “Menurut kamu apa itu mimpi?” ujar saya, ia menjawab malas-malasan “Bunga tidur, apalagi?”“Selain itu?”“Bunga hidup, mungkin?”, kita sama-sama tersenyum mendengar plesetan yang ia lontarkan, namun setelahnya saya berpikir tentang pernyataan teman saya itu tentang “bunga hidup”, di mana tidur yang bahagia ialah ketika kita bermimpi, begitukah pula ketika kita terjaga? Saya masih mengingat satu buah kutipan tentang mimpi,“Sebaik-baiknya bermimpi, adalah ketika kedua mata terbuka”, ya saya setuju, saya setuju kalau mimpi adalah bunga hidup, yang membuat manusia benar-benar menjalani suatu rangkaian imajinasi bernama kehidupan.
 
            Berdiskusi tentang mimpi dengan siapapun adalah hal yang cukup menyenangkan, pertanyaan sederhana “Mimpi kamu apa?” selalu memiliki jawaban yang membuat bibir orang yang mendengarkan melukiskan senyum, ada semangat, harapan, dan doa pada setiap kata yang dilontarkan. Saya pernah berpikir, bahwa salah satu hal fatal yang tidak dimiliki kurikulum pendidikan di Indonesia adalah bermimpi. Suatu ketika saya sedang ngobrol ringan dengan salah seorang dosen, guru, relawan, dan inspirator saya.. Karlina Kuning, “Mbak, seru kali ya kalau suatu saat kita punya kelas di mana mengajarkan anak-anaknya untuk bermimpi?” dan seperti biasa, ibu dosen satu ini menjawab setiap pertanyaan dengan senyum dan jawaban yang antusias, ternyata obrolan ringan tersebut menjadi doa.
 
Rohim di Kelas Mimpi, ia bercerita ingin jadi Direktur Pembangunan
            Awal tahun 2013 komunitas sekaligus keluarga saya sejak tahun 2011, Coin a Chance Yogyakarta, membentuk satu divisi baru yang dinamakan Kakak Pendamping Karya atau Kanda Karya. Sederhana sekali, tujuannya ialah untuk memberikan kepada adik-adik asuh tentang apa yang tidak diberikan di bangku sekolah, kreativitas dan juga.. mimpi.
 
            Saya pernah menanyakan cita-cita atau mimpi salah seorang adik asuh Coin a Chance Yogyakarta yaitu Afri, “Kamu punya cita-cita apa dek nanti kalau sudah besar?”, ia menjawab dengan senyum “Ndak tahu mas, ndak kebayang..”, sebuah jawaban yang terdengar begitu lirih. Dan suatu ketika saya pernah mengajar di Bantul bersama teman-teman Book For Mountain, saya bermain dengan salah seorang anak perempuan yang saya lupa namanya, ia gendut dan lucu. Saya menanyakan pertanyaan yang sama seperti Afri, “Dek, nanti kalau sudah besar, mau kuliah di mana?”, ia jawab “Ndak kuliah mas, ndak ada uang..”, saat itu obrolan adik-adik memang sedang membahas asal kakak-kakak yang datang mengajar, termasuk kampusnya. Saya mencoba memancing kembali, “Kalau sudah besar dan dibolehkan memilih, adek mau jadi apa?”, ia kembali menjawab dengan logat Jawa yang kental “Manut ibu sajalah mas..”, sungguh jawaban yang sebenarnya tidak ingin saya dengar.
 
            Tapi, ini samasekali bukanlah salah mereka, mereka tidak ‘diizinkan’ melihat dunia, mengetahui, dan memimpikan seluas-luasnya semesta, hal yang mereka tahu adalah sekolah. Tidak jarang cita-cita atau mimpi mereka justru diredam oleh orang-orang sekitarnya, guru atau bahkan orangtua mereka, “Sudahlah, ndak usah neko-neko..”, satu kalimat yang dapat membuat anak-anak untuk enggan merayakan kebebasannya bermimpi.
 
            Kebebasan berekspresi anak-anak justru dibatasi bahkan dikotak-kotakan oleh 'pendidikan' dan lingkungannya, ini membuat anak-anak menjadi terlalu legowo dan manutan dalam menjalani hidupnya sendiri. Saya pernah mengunjungi salah satu Sekolah Dasar di bagian timur Jogja, di sana anak-anaknya dibebaskan untuk memilih keinginannya namun tetap bertanggungjawab, ketika hari Sabtu mereka memilih kelas yang disukai, ada teater dan musik, bahkan ketika bermusik pun mereka boleh memainkan segala macam bentuk alat musik, yang unik adalah beberapa dari mereka memainkan musik dari batu, ada yang sekadar berjoget, dan adapula yang dangdutan. Unik sekali, mereka juga tidak diwajibkan menggunakan seragam dan selalu diajarkan tentang kehidupan bebas, mandiri, dan bertanggungjawab. Alhasil suatu perbedaan yang saya temui di sana adalah, anak-anaknya sangat ekspresif, kreatif, dan heterogen.
 
Adik-adik asuh CACJogja
            Di sisi lain, pengalaman masa kecil yang saya alami dahulu ialah, ketika Sekolah Dasar saya selalu dibentuk oleh persepsi yang sama, bahkan kita sepakat bahwa pemandangan ialah dua buah gunung, pematang sawah, jalanan di tengah-tengahnya, dan matahari terbit, betul? Dan hal yang saya temukan dari dulu sampai sekarang ialah budaya mencibir mereka yang ingin tampil lebih. Apakah saat Sekolah Dasar kalian pernah meneriakki “wuuuu..” teman kalian yang maju kedepan kelas untuk membaca puisi atau pidato? Di salah satu Sekolah Dasar di kota Jogja bahkan saya mendapati beberapa anak-anak yang takut untuk menjadi juara, ketika ditanyakan alasannya ia menjawab “Takut digodain teman-teman, mas”, wah jawaban yang lucu sekali, tapi saya pernah juga mengalaminya dulu, bahkan sampai sekarang di bangku kuliah.
 
           Sekarang saya melihat kembali realita tersebut di wajah anak-anak kecil, anak-anak yang sebenarnya tidak perlu terlalu preventif dalam segala hal, termasuk bermimpi. Mereka tidak sepantasnya dibatasi haknya untuk berekspresi, memilih cita-cita atau mimpi mereka, dan lalu memperjuangkannya. Anak-anak disekolahkan bukan sekadar untuk membaca dan menulis, namun untuk mengenali dirinya, menggali yang mereka punya, untuk kemudian diekspresikan. Bukan, bukan justru dibuat menjadi sama dan dibatasi haknya untuk berbeda.
 
            Hingga akhirnya pada hari Minggu tanggal 14 April 2013, divisi Kanda Karya dari Coin a Chance Yogyakarta melaksanakan tugas pertamanya, yaitu Kelas Mimpi. Melalui namanya, kita dapat mengintepretasikan kelas tersebut sebagai kelas non-formal dan jauh dari kurikulum di bangku sekolah. Memang, Kelas Mimpi oleh Kanda Karya ini ialah kegiatan yang mengajak seluruh adik asuh Coin a Chance Yogyakarta untuk berkumpul bersama Kanda Karya-nya masing-masing, lalu mereka akan diceritakan beragam hal tentang profesi-profesi dan hal-hal menarik yang ada di dalam kehidupan, hal-hal yang jarang sekali dijabarkan oleh guru di sekolah. Anak-anak dengan segala keingintahuannya pasti akan menemukan hal baru, dan itulah yang terjadi saat Kelas Mimpi kemarin, adik-adik asuh terlihat begitu antusias, mereka seperti baru menemukan mainan baru.
 
img border="0" height="200" src="http://3.bp.blogspot.com/-5zRjFtjRuck/UXLyf8AWSmI/AAAAAAAAAKE/dmgsbovzz8M/s200/IMG_4239.JPG" style="border:9px none;height:auto;border-image-source:url(data:image/png;border-image-slice:9;border-image-width:9px;border-image-repeat:stretch;" width="149" />img border="0" height="200" src="http://3.bp.blogspot.com/-DbIryeA8WaY/UXLyf6j9ynI/AAAAAAAAAKI/mxLfCPwnp84/s200/IMG_4235.JPG" style="border:9px none;height:auto;border-image-source:url(data:image/png;border-image-slice:9;border-image-width:9px;border-image-repeat:stretch;" width="149" />


            Setelah mereka menyaksikan beragam profesi dan kehidupan di balik profesi tersebut, mereka diminta untuk menuliskan cita-cita, mimpi, atau harapan mereka kelak di Kartu Mimpi, sekali lagi, mereka terlihat begitu antusias mengambil pensil warna untuk menuliskan mimpi-mimpi mereka, bahkan beberapa ada yang menggambarnya. Salah satu adik asuh bernama Tiara, adik dari Afri yang sempat saya ceritakan kisahnya, menulis “Saya ingin menjadi seorang Artis” di Kartu Mimpi, para Kanda Karya yang melihat tersenyum, ada ketulusan yang tergores pada kartu tersebut, walau mungkin saja seiring waktu yang semakin lama semakin bersahabat dengan mereka, mereka akan semakin mengenali diri mereka dan mengubah cita-citanya, lalu buat apa mereka bermimpi sejak dini? Sederhana sekali, bahwa hidup adalah tentang memperjuangkan apa yang kita percaya dan inginkan.
 
Kartu Mimpi milik Alif, adik asuh CACJogja
            Setidaknya, bagi anak-anak terutama yang berada pada ekonomi menuju sejahtera, menentukan cita-cita atau mimpinya ialah hal yang luarbiasa. Di luar sana, banyak dari mereka yang terlalu lelah untuk berharap, bukanlah hal yang pantas disalahkan karena kehidupan mereka sudah terlalu melelahkan, namun hal tersebut bisa diubah. Anies Baswedan pernah berkata "Berada di "atas" sering memudahkan untuk bermimpi, dan berada di "bawah" itu sering membuat bermimpi itu jadi sebuah mimpi tersendiri”, saya mengangguk menyetujuinya.
 
            Maka, saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman Kanda Karya dari Coin a Chance Yogyakarta yang telah menghadirkan cita-cita atau mimpi begitu dekat kepada anak-anak. Hal yang hampir sama juga dilakukan oleh Kelas Inspirasi dari Indonesia Mengajar, karena memang tugas besar ini ialah tanggungjawab bersama. Dengan membuat mereka (anak-anak) bermimpi, setidaknya menegur kita untuk pula terus bermimpi, sebelum menjadi tua dan terlalu realistis akan keadaan, haha.
Pohon Mimpi di Kelas Mimpi
Untuk anak-anak Indonesia, teruslah bermimpi dan mewujudkannya!
 
...Salam mimpi!
" /> Youngontop - Kelas Mimpi

Detail Notes

Kelas Mimpi


 

Sejak lama, saya selalu senang untuk disebut sebagai seorang “pemimpi”, entah kenapa saya merasa begitu kaya ketika memiliki banyak mimpi. Bagi saya, mimpi bukan sekadar penyedap rasa dari kehidupan, ialah menu utamanya, yang akan kita santap dari hari ke hari. Mimpi adalah manifestasi, rangkaian visual masadepan, dan tentunya.. doa.
 
            Lewat mimpi, segala hal terasa begitu mudah, begitu menyenangkan, begitu menenangkan. Lewat mimpi, kita bahagia untuk lelah, tertawa saat terjatuh, dan tersenyum ketika kehilangan. Mimpi adalah anugrah dari Tuhan yang diberikan kepada setiap manusia, tugas mereka hanya menemukan dan menjalaninya saja, ya.. bermimpi.
 
            Di sore yang cukup syahdu, saya berbincang dengan seorang teman tentang mimpi, “Menurut kamu apa itu mimpi?” ujar saya, ia menjawab malas-malasan “Bunga tidur, apalagi?”“Selain itu?”“Bunga hidup, mungkin?”, kita sama-sama tersenyum mendengar plesetan yang ia lontarkan, namun setelahnya saya berpikir tentang pernyataan teman saya itu tentang “bunga hidup”, di mana tidur yang bahagia ialah ketika kita bermimpi, begitukah pula ketika kita terjaga? Saya masih mengingat satu buah kutipan tentang mimpi,“Sebaik-baiknya bermimpi, adalah ketika kedua mata terbuka”, ya saya setuju, saya setuju kalau mimpi adalah bunga hidup, yang membuat manusia benar-benar menjalani suatu rangkaian imajinasi bernama kehidupan.
 
            Berdiskusi tentang mimpi dengan siapapun adalah hal yang cukup menyenangkan, pertanyaan sederhana “Mimpi kamu apa?” selalu memiliki jawaban yang membuat bibir orang yang mendengarkan melukiskan senyum, ada semangat, harapan, dan doa pada setiap kata yang dilontarkan. Saya pernah berpikir, bahwa salah satu hal fatal yang tidak dimiliki kurikulum pendidikan di Indonesia adalah bermimpi. Suatu ketika saya sedang ngobrol ringan dengan salah seorang dosen, guru, relawan, dan inspirator saya.. Karlina Kuning, “Mbak, seru kali ya kalau suatu saat kita punya kelas di mana mengajarkan anak-anaknya untuk bermimpi?” dan seperti biasa, ibu dosen satu ini menjawab setiap pertanyaan dengan senyum dan jawaban yang antusias, ternyata obrolan ringan tersebut menjadi doa.
 
Rohim di Kelas Mimpi, ia bercerita ingin jadi Direktur Pembangunan
            Awal tahun 2013 komunitas sekaligus keluarga saya sejak tahun 2011, Coin a Chance Yogyakarta, membentuk satu divisi baru yang dinamakan Kakak Pendamping Karya atau Kanda Karya. Sederhana sekali, tujuannya ialah untuk memberikan kepada adik-adik asuh tentang apa yang tidak diberikan di bangku sekolah, kreativitas dan juga.. mimpi.
 
            Saya pernah menanyakan cita-cita atau mimpi salah seorang adik asuh Coin a Chance Yogyakarta yaitu Afri, “Kamu punya cita-cita apa dek nanti kalau sudah besar?”, ia menjawab dengan senyum “Ndak tahu mas, ndak kebayang..”, sebuah jawaban yang terdengar begitu lirih. Dan suatu ketika saya pernah mengajar di Bantul bersama teman-teman Book For Mountain, saya bermain dengan salah seorang anak perempuan yang saya lupa namanya, ia gendut dan lucu. Saya menanyakan pertanyaan yang sama seperti Afri, “Dek, nanti kalau sudah besar, mau kuliah di mana?”, ia jawab “Ndak kuliah mas, ndak ada uang..”, saat itu obrolan adik-adik memang sedang membahas asal kakak-kakak yang datang mengajar, termasuk kampusnya. Saya mencoba memancing kembali, “Kalau sudah besar dan dibolehkan memilih, adek mau jadi apa?”, ia kembali menjawab dengan logat Jawa yang kental “Manut ibu sajalah mas..”, sungguh jawaban yang sebenarnya tidak ingin saya dengar.
 
            Tapi, ini samasekali bukanlah salah mereka, mereka tidak ‘diizinkan’ melihat dunia, mengetahui, dan memimpikan seluas-luasnya semesta, hal yang mereka tahu adalah sekolah. Tidak jarang cita-cita atau mimpi mereka justru diredam oleh orang-orang sekitarnya, guru atau bahkan orangtua mereka, “Sudahlah, ndak usah neko-neko..”, satu kalimat yang dapat membuat anak-anak untuk enggan merayakan kebebasannya bermimpi.
 
            Kebebasan berekspresi anak-anak justru dibatasi bahkan dikotak-kotakan oleh 'pendidikan' dan lingkungannya, ini membuat anak-anak menjadi terlalu legowo dan manutan dalam menjalani hidupnya sendiri. Saya pernah mengunjungi salah satu Sekolah Dasar di bagian timur Jogja, di sana anak-anaknya dibebaskan untuk memilih keinginannya namun tetap bertanggungjawab, ketika hari Sabtu mereka memilih kelas yang disukai, ada teater dan musik, bahkan ketika bermusik pun mereka boleh memainkan segala macam bentuk alat musik, yang unik adalah beberapa dari mereka memainkan musik dari batu, ada yang sekadar berjoget, dan adapula yang dangdutan. Unik sekali, mereka juga tidak diwajibkan menggunakan seragam dan selalu diajarkan tentang kehidupan bebas, mandiri, dan bertanggungjawab. Alhasil suatu perbedaan yang saya temui di sana adalah, anak-anaknya sangat ekspresif, kreatif, dan heterogen.
 
Adik-adik asuh CACJogja
            Di sisi lain, pengalaman masa kecil yang saya alami dahulu ialah, ketika Sekolah Dasar saya selalu dibentuk oleh persepsi yang sama, bahkan kita sepakat bahwa pemandangan ialah dua buah gunung, pematang sawah, jalanan di tengah-tengahnya, dan matahari terbit, betul? Dan hal yang saya temukan dari dulu sampai sekarang ialah budaya mencibir mereka yang ingin tampil lebih. Apakah saat Sekolah Dasar kalian pernah meneriakki “wuuuu..” teman kalian yang maju kedepan kelas untuk membaca puisi atau pidato? Di salah satu Sekolah Dasar di kota Jogja bahkan saya mendapati beberapa anak-anak yang takut untuk menjadi juara, ketika ditanyakan alasannya ia menjawab “Takut digodain teman-teman, mas”, wah jawaban yang lucu sekali, tapi saya pernah juga mengalaminya dulu, bahkan sampai sekarang di bangku kuliah.
 
           Sekarang saya melihat kembali realita tersebut di wajah anak-anak kecil, anak-anak yang sebenarnya tidak perlu terlalu preventif dalam segala hal, termasuk bermimpi. Mereka tidak sepantasnya dibatasi haknya untuk berekspresi, memilih cita-cita atau mimpi mereka, dan lalu memperjuangkannya. Anak-anak disekolahkan bukan sekadar untuk membaca dan menulis, namun untuk mengenali dirinya, menggali yang mereka punya, untuk kemudian diekspresikan. Bukan, bukan justru dibuat menjadi sama dan dibatasi haknya untuk berbeda.
 
            Hingga akhirnya pada hari Minggu tanggal 14 April 2013, divisi Kanda Karya dari Coin a Chance Yogyakarta melaksanakan tugas pertamanya, yaitu Kelas Mimpi. Melalui namanya, kita dapat mengintepretasikan kelas tersebut sebagai kelas non-formal dan jauh dari kurikulum di bangku sekolah. Memang, Kelas Mimpi oleh Kanda Karya ini ialah kegiatan yang mengajak seluruh adik asuh Coin a Chance Yogyakarta untuk berkumpul bersama Kanda Karya-nya masing-masing, lalu mereka akan diceritakan beragam hal tentang profesi-profesi dan hal-hal menarik yang ada di dalam kehidupan, hal-hal yang jarang sekali dijabarkan oleh guru di sekolah. Anak-anak dengan segala keingintahuannya pasti akan menemukan hal baru, dan itulah yang terjadi saat Kelas Mimpi kemarin, adik-adik asuh terlihat begitu antusias, mereka seperti baru menemukan mainan baru.
 


            Setelah mereka menyaksikan beragam profesi dan kehidupan di balik profesi tersebut, mereka diminta untuk menuliskan cita-cita, mimpi, atau harapan mereka kelak di Kartu Mimpi, sekali lagi, mereka terlihat begitu antusias mengambil pensil warna untuk menuliskan mimpi-mimpi mereka, bahkan beberapa ada yang menggambarnya. Salah satu adik asuh bernama Tiara, adik dari Afri yang sempat saya ceritakan kisahnya, menulis “Saya ingin menjadi seorang Artis” di Kartu Mimpi, para Kanda Karya yang melihat tersenyum, ada ketulusan yang tergores pada kartu tersebut, walau mungkin saja seiring waktu yang semakin lama semakin bersahabat dengan mereka, mereka akan semakin mengenali diri mereka dan mengubah cita-citanya, lalu buat apa mereka bermimpi sejak dini? Sederhana sekali, bahwa hidup adalah tentang memperjuangkan apa yang kita percaya dan inginkan.
 
Kartu Mimpi milik Alif, adik asuh CACJogja
            Setidaknya, bagi anak-anak terutama yang berada pada ekonomi menuju sejahtera, menentukan cita-cita atau mimpinya ialah hal yang luarbiasa. Di luar sana, banyak dari mereka yang terlalu lelah untuk berharap, bukanlah hal yang pantas disalahkan karena kehidupan mereka sudah terlalu melelahkan, namun hal tersebut bisa diubah. Anies Baswedan pernah berkata "Berada di "atas" sering memudahkan untuk bermimpi, dan berada di "bawah" itu sering membuat bermimpi itu jadi sebuah mimpi tersendiri”, saya mengangguk menyetujuinya.
 
            Maka, saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman Kanda Karya dari Coin a Chance Yogyakarta yang telah menghadirkan cita-cita atau mimpi begitu dekat kepada anak-anak. Hal yang hampir sama juga dilakukan oleh Kelas Inspirasi dari Indonesia Mengajar, karena memang tugas besar ini ialah tanggungjawab bersama. Dengan membuat mereka (anak-anak) bermimpi, setidaknya menegur kita untuk pula terus bermimpi, sebelum menjadi tua dan terlalu realistis akan keadaan, haha.
Pohon Mimpi di Kelas Mimpi
Untuk anak-anak Indonesia, teruslah bermimpi dan mewujudkannya!
 
...Salam mimpi!
By Fanbul,
Posted 13-05-2013 read:364

Related Notes

  Sejak lama, saya selalu senang untuk disebut sebagai seorang “pemimpi”, entah kenapa saya merasa…
By Fanbul
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Sasmito Hadi Wibowo mengatakan, barang…
By jamila
Tahun demi tahun berlalu, Mungkin aku pernah menjadi sosok yang menjengkelkan, yang membuat harimu buruk,…
By Laili Muttamimah
Dunia kita bukanlah dunia dengan satu warna. Dunia kita bukanlah dunia keseragaman. Tetapi, dunia kita…
By Erwin Setiawan
Halo YOT-ers, apakah YOT-ers pernah mengalami saat-saat yang menjengkelkan, menyebalkan dan membuat YOT-ers ingin meledak…
By Adrie Octavianus Thioritz